Jejak dan Karier A.K Gani Setelah Lulus dari STOVIA ia pernah menjabat sebagai anggota Konstituante Indonesia ketika lembaga ini pertama kali didirikan. Selain itu ia juga pernah menjadi Gubernur Militer Sumatera Selatan pada periode revolusi fisik melawan Agresi Militer Belanda dan juga pernah menjadi anggota delegasi Perundingan Linggarjati pada tahun 1946 Di Pemerintahan Indonesia, beberapa kali Gani menduduki kursi menteri. Debut Gani bermula di Masa Kabinet Sjahrir III sebagai Menteri Ekonomi. Pada masa pemerintahan Amir Sjarifuddin (3 Juli 1947 - 29 Januari 1948), ia menjabat sebagai wakil perdana menteri merangkap sebagai Menteri Kemakmuran. Pada tanggal 9 November 2007, almarhum Mayjen TNI Gani dianugerahi gelar pahlawan nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono |
|
|
|
Kamis, 08 Maret 2012
ROBERT WOLTER MONGINSIDI

Robert Wolter Monginsidi lahir di desa Mamalayang, Manado, tanggal 14 Februari 1925. Bote, begitu biasa ia dipanggil, sejak kecil dikenal sebagai anak yang pemberani dan kukuh dalam memegang prinsip kebenaran.
Selesai menamatkan Hollandsche Inlandsche School (HIS), ia melanjutkan pendidikannya di MULO Flater. Ia baru duduk di kelas 2 ketika pecah perang Pasifik. Ia lalu melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Calon Pegawai dan guru bahasa Jepang di Tomohon. Selepas dari pendidikannya, Bote mengajar bahasa Jepang di berbagai tempat. Semula ia berada di Liwutung, kemudian pindah ke Luwuk, dan terakhir ke Makassar.
Ia bergabung dengan LAPRIS (Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi) yang dipimpin Ranggong daeng Romo di Polobangkeng ketika Indonesia merdeka. Ketika pasukan NICA yang ditunggangi Belanda memasuki Sulawesi Selatan, mereka kerap melancarkan serangan pada Belanda dengan taktik perang gerilya dan menimbulkan kerugian yang sangat besar di pihak Belanda.
NICA lantas melancarkan operasi besar-besaran pada tanggal 28 Februari 1947. Bote tertangkap dalam operasi ini dan dipenjara. Sekitar 8 bulan kemudian ia dapat meloloskan diri dari penjara. Pengejaran besar-besaran pun dilakukan Belanda untuk menangkapnya kembali. Bote tertangkap kembali setelah 9 hari kabur dari penjara.
Karena Bote tidak mau diajak kerja sama, Belanda kemudian mengajukannya ke persidangan. Vonis hukuman mati pun dijatuhkan padanya. Tanggal eksekusi mati untuk Robert Wolter Monginsidi telah ditetapkan, 5 September 1949. Lokasinya di Pacinang.
Tjilik Riwut
Tjilik Riwut (lahir di Kasongan, Katingan, Kalimantan Tengah, 2 Februari 1918 – meninggal di Rumah Sakit Suaka Insan, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, 17 Agustus 1987 pada umur 69 tahun) adalah salah satu pahlawan nasional Indonesia. Ia meninggal setelah dirawat di rumah sakit karena menderita penyakit lever/hepatitis dalam usia 69 Tahun, dimakamkan di makam Pahlawan Sanaman Lampang, Palangka Raya Kalimantan Tengah.
Tjilik Riwut yang dengan bangga selalu menyatakan diri sebagai "orang hutan" karena lahir dan dibesarkan di belantara Kalimantan, adalah pencinta alam sejati juga sangat menjunjung tinggi budaya leluhurnya. Ketika masih belia ia telah tiga kali mengelilingi pulau Kalimantan hanya dengan berjalan kaki, naik perahu dan rakit.
Tjilik Riwut adalah salah satu putera Dayak yang menjadi KNIP. Perjalanan dan perjuangannya kemudian melampau batas-batas kesukuan untuk menjadi salah satu pejuang bangsa. Penetapannya sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1998 merupakan wujud penghargaan atas perjuangan di masa kemerdekaan dan pengabdian membangun Kalimantan (Tengah).
Setelah dari Pulau Jawa untuk menuntut ilmu, Tjilik Riwut diterjunkan ke Kalimantan sebagai pelaksana misi Pemerintah Republik Indonesia yang baru saja terbentuk, namun beliau tidak terjun. Nama-nama yang terjun merebut kalimantan adalah Harry Aryadi Sumantri, Iskandar, Sersan Mayor Kosasih, F. M. Suyoto, Bahrie, J. Bitak, C. Williem, Imanuel, Mika Amirudin, Ali Akbar, M. Dahlan, J. H. Darius, dan Marawi.
Moh Toha
Muhammad Toha (Bandung, 1927 - idem, 24 Maret 1946) adalah pahlawan dalam peristiwa Bandung Lautan Api di Kota Bandung, Indonesia. Pada saat itu, Muhamad Toha melepaskan bom bunuh diri untuk menghancurkan gudang persenjataan Jepang.
Mohammad Toha dilahirkan di Jalan Banceuy, Desa Suniaraja, Kota Bandung pada tahun 1927. Ayahnya bernama Suganda dan ibunya yang berasal dari Kedunghalang, Bogor Utara, Bogor, bernama Nariah. Toha menjadi anak yatim ketika pada tahun 1929 ayahnya meninggal dunia. Ibu Nariah kemudian menikah kembali dengan Sugandi, adik ayah Toha. Namun tidak lama kemudian, keduanya bercerai dan Mohamad Toha diambil oleh kakek dan neneknya dari pihak ayah yaitu Bapak Jahiri dan Ibu Oneng. Mohamad Toha mulai masuk sekolah rakyat pada usia 7 tahun hingga kelas 4. Sekolahnya terhenti ketika Perang Dunia II pecah.
Pada zaman Jepang, Toha mulai mengenal dunia militer dengan memasuki Seinendan. Sehari-hari Toha juga membantu kakeknya di Biro Sunda, kemudian bekerja di bengkel motor di Cikudapateuh. Selanjutnya, Toha belajar menjadi montir mobil dan bekerja di bengkel kendaraan militer Jepang sehingga ia mampu berbahasa Jepang.
Setelah Indonesia merdeka, Toha terpanggil untuk bergabung dengan badan perjuangan Barisan Rakjat Indonesia (BRI), yang dipimpin oleh Ben Alamsyah, paman Toha sendiri. BRI selanjutnya digabungkan dengan Barisan Pelopor yang dipimpin oleh Anwar Sutan Pamuncak menjadi Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI). Dalam lasykar ini ia duduk sebagai Komandan Seksi I Bagian Penggempur. Menurut keterangan Ben Alamsyah, paman Mohamad Toha, dan Rachmat Sulaeman, tetangga Mohamad Toha dan juga Komandannya di BBRI, pemuda Toha adalah seorang pemuda yang cerdas, patuh kepada orang tua, memiliki disiplin yang kuat serta disukai oleh teman-temannya. Pada tahun 1945 itu, Mohamad Toha digambarkan sebagai pemuda pemberani dengan tinggi 1,65 m, bermuka lonjong dengan pancaran mata yang tajam.
USMAN "JANATIN" BIN MUHAMMAD ALI

Usman bin Muhammad Ali alias Janatin dilahirkan di Jatisobo, Banyumas, tanggal 18 Maret 1943. Setelah tamat dari SMP, ia memasuki dinas militer pada Korps Komando Angkatan Laut (KKO) terhitung sejak tanggal 1 Juni 1962. Ketika ia memasuki dinas militer, Indonesia tengah terlibat sengketa politik dengan Malaysia.
Usman adalah sosok prajurit yang tegas, disiplin dan dinilai cakap menjalankan tugas yang dibebankan kepadanya. Melalui saringan yang ketat, Usman kemudian terpilih menjadi salah satu prajurit yang mendapat tugas yang berat lagi sangat berbahaya : menyusup ke Singapura dan membuat sabotase di sana.
Bersama dengan Harun bin Said dan Gani bin Arup, Usman berhasil masuk ke Singapura dan juga berhasil meledakkan bangunan McDonald di Singapura dalam rangka membuat sabotase pada tanggal 10 Maret 1965. Mereka bersegera meninggalkan Singapura untuk menuju pulau Sambu yang menjadi pangkalan semula. Malang, perahu boat yang mereka tumpangi mendadak rusak. Pasukan khusu Australia menangkapnya di pelabuhan Singapura.
Dalam pengadilan Singapura, Usman dinyatakan bersalah dan divonis hukuman mati. Pada tanggal 17 Oktober 1968 Usman menjalani hukuman gantung di dalam penjara Changi, Singapura. Jenazahnya kemudian dibawa ke Indonesia dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Pemerintah Indonesia mengangkatnya sebagai Pahlawan Pembela Kemerdekaan pada waktu kematiannya.
SYEKH YUSUF


Syekh Yusuf berasal dari keluarga bangsawan tinggi di kalangan suku bangsa Makassar dan mempunyai pertalian kerabat dengan raja-raja Banten, Gowa, dan Bone. Syekh Yusuf sendiri dapat mengajarkan beberapa tarekat sesuai dengan ijazahnya. Seperti tarekat Naqsyabandiyah, Syattariyah, Ba`alawiyah, dan Qadiriyah. Namun dalam pengajarannya, Syekh Yusuf tidak pernah menyinggung pertentangan antara Hamzah Fansuri yang mengembangkan ajaran wujudiyah dengan Syekh Nuruddin Ar-Raniri dalam abad ke-17 itu.
Kendati putra Nusantara, namanya justru berkibar di Afrika Selatan. Ia dianggap sebagai sesepuh penyebaran Islam di negara di benua Afrika itu. Tiap tahun, tanggal kematiannya diperingati secara meriah di Afrika Selatan, bahkan menjadi semacam acara kenegaraan. Bahkan, Nelson Mandela yang saat itu masih menjabat presiden Afsel, menjulukinya sebagai ‘Salah Seorang Putra Afrika Terbaik’.
Syekh Yusuf lahir di Gowa, Sulawesi Selatan, tanggal 03 Juli 1626 dengan nama Muhammad Yusuf. Nama itu merupakan pemberian Sultan Alauddin, raja Gowa, yang merupakan karib keluarga Gallarang Monconglo’E, keluarga bangsawan dimana Siti Aminah, ibunda Syekh Yusuf berasal. Pemberian nama itu sekaligus mentasbihkan Yusuf kecil menjadi anak angkat raja.
Syekh Yusuf sejak kecil diajar serta dididik secara Islam. Ia diajar mengaji Alquran oleh guru bernama Daeng ri Tasammang sampai tamat. Di usianya ke-15, Syekh Yusuf mencari ilmu di tempat lain, mengunjungi ulama terkenal di Cikoang yang bernama Syekh Jalaluddin al-Aidit, yang mendirikan pengajian pada tahun 1640.
Teuku Muhammad Hassan
Id kaskus: Boelarza Sumber: Wikipedia Teuku Mohammad Hasan (lahir di Sigli, Pidie, Nanggroe Aceh Darussalam, 4 April 1906 – meninggal di Jakarta, 21 September 1997 pada umur 91 tahun) adalah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia pada tahun 1948 hingga tahun 1949 dalam Kabinet Darurat. Selain itu ia adalah seorang pejuang kemerdekaan dan pahlawan nasional Indonesia. Ia adalah anak dari Teuku Bintara Peneung Ibrahim dan Tjut Manyak. Hasratnya yang besar untuk menuntut ilmu dan kerja kerasnya berbuah gelar Meester in de Rechten atau Sarjana Hukum di Universitas Leiden, Belanda pada tahun 1934. Dari tahun 1936 sampai dengan 1938, ia bekerja sebagai pegawai pemerintah pendudukan Belanda di Batavia. Semula ia bekerja di Departemen Onderwijs en Eeredienst (Depdiknas) kemudian di Kantor Bestuur Hervorming. Lalu pada tahun 1938 ia dipindahkan ke Kantor Gubernur Sumatera di Medan. |
|
|
|
Langganan:
Postingan (Atom)